Wisata edukatif memang menyenangkan. Apalagi dengan berkunjung ke desa atau tempat yang dipenuhi sarat adat dan kebiasaan tradisional dapat membuat wawasan menjadi tambah luas. Ternyata sekelompok masyarakat yang masih memegang erat adat istiadat dari leluhurnya dalam hal ini adat sunda tak hanya terdapat di suku badui yang berada di pedalaman Lebak, Banten saja. Di Tasikmalaya ternyata juga ada masyarakat sub-etnis yang sama dengan masyarakat suku badui, Yaitu Kampung Naga.

Kampung Naga, Tasikmlaya, Jawa Barat

Kampung Naga, Tasikmlaya, Jawa Barat
Sumber: www.rizalabdillah.com

Kampung ini bukanlah tempat asal atau dahulu jadi tempat tinggal dari hewan mitologi. Namun,  suatu area pedesaan di bagian timur Jawa Barat tepatnya daerah Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

  1. SEJARAH KAMPUNG NAGA

Apabila kita ulas mengenai sejarah terbentuknya Kampung Naga, pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, yang mengutus abdinya bernama Singaparana ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Sesampainya ke daerah Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat petunjuk harus melakukan persemedian. Ketika menjalani semedi, singaparna untuk mendiami suatu tempat dan sekarang disebut dengan Kampung Naga.

  1. SEJARAH NAMA KAMPUNG NAGA 

Kampung Naga berasal dari kata “nagawir” yang artinya menggantung. Benar saja, keberadaan Kampung Naga tersebut ada di lembah yang seakan menggantung dari bukit. Warga sekitar menyebut sejarah Kampung Naga dengan “pareumeun obor”. Pareum jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Jika diterjemahkan secara singkat yaitu, Matinya penerangan.

Kenapa bisa begitu? Dalam sejarah lain mengatakan bahwa hal ini disebabkan oleh terbakarnya arsip dokumen yang dimiliki Kampung Naga oleh Organisasi DI/TII Kartosoewiryo. Kerena ambisiun kelompok DI/TII menciptakan negara yang berbasis pada kesilaman di Indonesia. Namun, Kampung Naga bersiku untuk mendukung Soekarno. Kejadian itu membuat DI/TII geram karena tak mendapatkan simpatik dari warga Kampung Naga. Pada akhirnya DI/TII meluluhlantahkan dengan membakar Kampung Naga yang mengakibatkan semua yang bukti tekstualnya hilang.

  1. PEMBAHASAN LENGKAP KAMPUNG NAGA 

Kehidupan Warga Kampung Naga

Kehidupan Warga Kampung Naga.
Sumber: www.rizalabdillah.com

Keberadaan Kampung Naga tak jauh dari Kota Tasikmalaya hanya berjarak 30 kilometer. Meski begitu Kampung Naga memliki udara yang masih segar dan sejuk dikarenakan tidak terjamah dengan kemajuan zaman. Kampung naga sejatinya bukan objek wisata yang dibuat secara resmi, namun tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Kehidupan bermasyarakat yang serba sederhana mengundang banyak wisatawan untuk datang kesana terutama masyarakat kota. Di sini, wisatawan dapat melihat secara langsung bagaimana kearifan warga serta budaya yang hidup di dalamnya.

Kampung Naga pantas disebut sebagai kampung adat karena warganya masih menjalankan adat istiadat dalam kesehariannya. Budaya yang terjaga ini meliputi berbagai aspek, mulai dari bangunan yang masih tradisional hingga kebiasaan dalam bermasyarakat. Hal tersebut yang menjadikan magnet bagi wisatawan untuk melihat langsung Kampung Naga.

Jumlah rumah dan bangunan yang ada di Kampung Naga hanya berjumlah 111. Bangunan yang ada disana tidak juga bertambah atau berkurang. Bangunan yang berdiri kokoh disana tidak menggunakan semen, batu bata, atau beton yang terkenal dengan kokoh, melainkan terbuat dari bambu, papan kayu, dan beratapkan daun nipah atau ijuk. Bangunan rumah yang ada di Kampung Naga hanya disediakan satu pintu masuk dan juga jangan heran kalau kamu pergi kesana kalau rumah disana tidak dilengkapi dengan meja dan kursi  di ruang tamunya.

Di samping itu, keberlangsungan hidupnya masyarakat Kampung Naga tidak menggunakan listrik dan gas. Lampu minyak menjadi pilihan sebagai penerangan utama ketika malam hari. Dan untuk memasak masyarakat Kampung Naga masih mengandalkan kayu dan tungku.

  1. KUNJUNGAN WISATAWAN KAMPUNG NAGA

Banyak wisatawan yang penasaran dengan Kampung Naga bahkan wisatawan mancanegara. Pasalnya, banyak tradisi ritual keagamaan dan kebudayaan yang masih dilangsungkan disana dan bisa dilihat langsung oleh para wisatawan. Tapi dengan catatan tidak boleh mengganggu dan menjauhi pantangan yang sudah ditetapkan.

Kampung Naga menyediakan fasilitas umum seperti masjid, parkiran dan tempat istirahat. Untuk berbelanja disana tersedia warung cemilan dan tempat oleh-oleh khas Kampung Naga yang dibuat langsung oleh warga. Dan buat kamu yang benar ingin merasakan kehidupan malamnya, ada Homestay yang bisa disewa.

Happy Holiday

[TRIP]

 

Ingin Penawaran?